
Sleman,
Gotong Royong adalah tradisi warisan leluhur yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat dan perlu dipertahankan, karena gotong royong menjadi kunci sukses pembangunan diwilayah.
Hal itu diungkapkan oleh dukuh Tamanan, Tamanmartani, Kalasan disela-sela kegiatan gotong royong bersih makam diwilayahnya, Minggu, 20/3/2022.
Lebih lanjut dikatakan, gotong royong yang dilakukan masyarakat Tamanan tidak terbatas fisik, tetapi juga pikiran. Tidak pula terbatas bagi bapak-bapak. Tetapi juga ibu-ibu, pemuda dan anak-anak. Tergantung jenis program apa yang akan dikerjakan.
Gotong royong yang sekarang lebih ngetren latah dengan istilah kerja Bhakti itu sudah ada sejak dahulu. Di masyarakat dikenal ada dua istilah, yaitu Kerja Bhakti dan Sambatan. Kalau kerja Bhakti biasanya dilaksanan untuk mengerjakan program yang bersifat untuk kepentingan umum/masyarakat atau program organisasi, seperti membersihkan selokan, membersihkan makam, membangun fasilitas umum seperti gardu ronda, jalan, selokan, tempat ibadah, dlsb. Tetapi kalau Sambatan, biasanya kerja bhakti untuk membantu keperluan individu, misalnya saat mendirikan rumah, saat orang punya hajad besar maupun kecil yang tidak bisa dikerjakan sendiri. Karena tidak bisa sendiri, maka sambat dan minta dibantu, lalu disebut sambatan.
Hingga saat ini dipadukuhanTamanan, gotong royong masih dipertahankan, pelaksanaanya bisa bersifat masal maupun penjadwalan per RT atau RW. Kalau kegiatan besar dan serentak lokasi berbeda, maka diatur perwilah dan lokasinya, pelaksanaan serentak. Tetapi ada pula yang dihadwal bergiliran waktunya. Seperti yang dilakukan Minggu di tiga makam itu. Sedaya saget pun damel luwes, gumantung kawontenan, kata Hasto.
Sementara itu Pendamping Kalurahan Budaya Tamanmartani Rita Apriani, saat mengunjungi kegiatan gotong royong bersih makam di Tamanan menuturkan bahwa Adat dan Tradisi warisan leluhur yang ada dimasyarakat merupakan salah satu pilar Kalurahan budaya. Maka perlu dipertahankan, bahkan terus ditingkatkan. Semangat gotong royong memiliki makna bahwa ternyata orang tidak bisa hidup sendiri, pasti memerlukan bantuan orang lain. Pekerjaan yang berat terasa ringan. Yang pasti, menunjukkan guyub rukun. Tata nilai Guyub Rukun mengandung banyak manfaat positif bagi kehidupan bermasyarakat. Ini adiluhung, Tutur Rita.
(Tri Joko S/KIM Kalasan)

Be the first to comment